KOLOID DAN SENYAWA KARBON I

ACARA VII
KOLOID DAN SENYAWA KARBON 1

A.PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum :
– Untuk mempelajari pembuatan koloid dengan cara kondensasi.
– Untuk mempelajari pembuatan koloid dengan cara dispersi.
– Untuk menetahui jenis koloid (emulsi).
– Untuk mempelajari sifat adsorpsi koloid.
– Untuk mempelajari reaksi penyabunan dan pembuatan sabun.
– Untuk mempelajari denaturasi protein.
Waktu praktikum :
Kamis, 22 Maret 2012
Tempat Praktikum :
Laboratorium Kimia Dasar I, lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI
Koloid adalah sistem dispersi. Sistem dispersi atau sistem sebaran adalah suatu sistem yang menunjukan bahwa suatu zat terbagi halus dengan zat lain. Zat yang terbagi atau didispersikan disebut fase terdispersi, fase intern, atau fase diskontinu, sedangkan zat yang digunakan untuk mendispersikan disebut fase pendispersi, fase ekstern, atau fase kontinu. Fase pendispersi lebih dikenal sebagai medium pendispersi. Berdasarkan ukuran zat yang didispersikan, sistem dispersi dibedakan atas dispersi kasar, dispersi halus, dan dispersi molekuler. Dispersi kasar atau suspensi adalah sistem dua fase yang heterogen, tidak jernih, dan memiliki diameter partikel labih besar dari 10-5 cm. Partikel-pertikel suspensi dapat dilihat dengan mikroskop biasa, mudah diendapkan, dan tidak dapat dilewati kertas saring biasa maupun membran semipermeabel. Dispersi halus atau koloid adalah sistem dua fase yang ketercampurannya berada diantara homogen dan heterogen agak keruh, serta memiliki diameter partikel 10-7 cm sampai 10-5 cm. Partikel-partikel kolid tidak dapat dilihat dengan mikroskop biasa, tetapi dapat dilihat dengan mikroskop ultra, mudah diendapkan, dan tidak dapat melewati kertas saring biasa maupun membran semipermeabael. Dispersi molekular atau larutan adalah sistem satu fase yang homogen, jernih, dan memiliki diameter tidak lebih dari 10-7 cm. Partikel-partikel larutan tidak dapat dilihat dengan mikroskop biasa maupun mikroskop ultra, sukar diendapkan, dan dapar melewati kertas saring biasa maupun membran semipermeabel (Sumardjo, 2008: 535).
Sifat-sifat yang dimiliki koloid antara lain efek Tyndall, gerak Brown, bermuatan, adsorpsi, dan koagulasi. Garak Brown, bermuatan, adsorpsi, dan koagulasi berkaitan dengan interaksi antara partikel terdispersi dan medium pendispersi. Jika seberkas sinar dilewatkan melalui larutan gula, dan air kopi, berkas sinar tersebut tidak terlihat. Sebaliknya, jika seberkas sinar dilewatkan melalui air susu, berkas sinar tersebut terlihat. Hal tersebut disebabkan susunan partikel-partikel dalam ketiga campuran tersebut. Susuna partikel dalm koloid menyebabkan berkas sinar akan dihamburkan oleh partikel-partikel koloid. Jika berkas sinar tersebut dilewatkan melalui larutan, seluruh berkas sinar tidak tertahan. Jika berkas sinar dilewatkan melalui suspensi, partikel-partikel akan menahan berkas sinar tersebut. Gejala penghamburan sinar oleh partikel koloid disebut efek Tyndall. Gerak Brown adalah gerak patah-patah (zig-zag) partikel-partikel koloid secara terus menerus dengan arah sembarang. Gerak Brown diakibatkan interaksi antara partikel-partikel koloid dengan molekul-molekul pendispersinya. Interaksi berupa tumbukan antara partikel tersebut tidak seimbang karena kecilnya ukuran partikel. Akibatnya, arah gerak partikel berubah-ubah tiadak menentu dan membentuk gerak zig-zag. Gerak Brown dipengaruhi oleh ukuran partikel dan suhu. Semakin kecil ukuran partikel-partikel koloid, gerak Brown semakin cepat, semakin besar ukuran partikel-partikel koloid, gerak Brown semakin lambat, semakin tinggi suhu koloid, gerak Brown akan semakin cepat, semakin rendah suhu koloid, gerak brown akan semakin lambat. Sifat lain yang dimiliki partikel koloid adalah adsorpsi, yaitun penyerapan partikel oleh permukaan zat. Hal ini dapat terjadi karena permukaan koloid mempunyai luas permukaan yang besar. Sifat adsorpsi partikel-partikel koloid tersebut dapat dimanfaatkan pada pemutihan gula pasir, pewarnaan tekstil, dan penjernihan air. Penyerapan ion pada permukaan partikel koloid akan menyebabkan partikel koloid akan bermuatan listrik. Ada dau jenis muatan listrik yang adapt dimiliki koloid, yaitu muatan positif dan muatan negatif. Contohnya, penyerapan ion H+ oleh koloid Fe(OH)3 dalam air membuat koloid Fe(OH)3 bermuatan positif. Adapun penyerapan ion-ion negatif oleh koloid As2S3 akan menyebabkan koloid As2S3 bermuatan negatif. Muatan yang dimiliki partikel-partikel dalam suatu koloid akan sejenis sehingga partikel-partikel koloid akan saling tolak menolak. Hal tersebut menyebabkan suatu kolid stabil (Muchtariadi, 2007: 260-263).
Oleh karena ukuran partikel koloid berada pada rentang antara larutan sejati dan suspensi kasar maka sistem koloid dapat diperoleh melalui dua cara, yaitu dispersi dan kondensasai. Beberapa metode praktis yang biasa digunakan untuk membuat koloid yang tergolong cara dispersi adalah cara mekanik, cara peptisasi, homogenisasi, dan cara busur Bredig. Dengan cara mekanik, zat-zat yang berukuran besar dapat direduksi menjadi partikel berukuran koloid memlalui penggilingan, pengadukan, penumbukan, dan penggerusan. Zat-zat yang sudah berukuran koloid selanjutnya didispersi ke dalam medium pendispersi. Dengan cara busur Bredig, arus listrik bertegangan tinggi dialirkan melalui dua buah elektrode logam (bahan terdispersi). Kemudian, kedua elektrode itu dicelupkan ke dalam air hingga kedua ujung elektrode itu hampie bersentuhan agar terjadi loncatan bunga api listrik. Loncatan bunga api listrik mengakibatkan bahan elektrode teruapkan membentuk atom-atomnya dan larut di dalam medium pendispersi membentuk sol. Dengan cara peptisasi, dispersi koloid dapat juga diperoleh dari suspensi kasar dengan cara memecah partikel-partikel suspensi secara kimia. Kemudian, menambahkan ion-ion sejenis yang dapat diadsorpsi oleh partikel-pertikel koloid sampai koloid menjadi stabil. Koagulasi agregat-agregat yang telah membentuk partikel-partikel berukuran koloid dapt diahambat karena adanya ion-ion teradsorpsi pada permukaan partikel koloid. Cara homogenisasi yaitu pembuatan koloid jenis emulsi dapat dilakukan dengan menggunakan mesin penghomogen sampai berukuran koloid. Adapun cara kondensasi umumnya dilakukan melalui reaksi kimia. Tiga macam reaksi yang dapat menghsilkan kondensasi adalah reaksi hidrolisis, reaksi redoks, dan reaksi metatesis (Sunarya, 2007: 212).
Adanya sifat adsorpsi dan zat terdispersi (dengan fase padat) terhadap mediumnya (denga fase cair), maka kita mengenal dua jenis sol, yaitu sol liofil dan liofob. Sol liofil adalah sol yang zat terdispersinya akan menarik dan mengadsorpsi molekul mediumnya. Sol liofob ialah sol yang zat terdispersinya tidak akan menarik dan tidak mengadsorpsi molekul mediumnya. Bila sol tersebut menggunakan air sebagai medium, maka kedua jenis koloid tersebut adalah hidrofil dan sol hidrofob. Sol liofil lebih kental dari pada mediumnya dan tidak terkoagulasi jika ditambah sedikit elektrolit. Oleh karena itu, koloid liofil lebih stabil jika dibandingakan dengan koloid liofob (Miladi, 2010).
Proses elektrokoagulasi dilakukan pda bejana elektrolisis yang di dalamnya terdapt katoda dan anoda sebagai penghantar arus listrik searah yang disebut elektroda, yang tercelup dalam larutan limbah sebagai elektrolit, yang salah satu elektrodanya terbuat dari alumunium. Dalam proses ini akan terjadi reaksi reduksi dan diendapkan di kutub negatif, sedangakan elaktroda positif (Fe) akan teroksidasi menjadi Fe(OH)3 yang berfungsi sebagai koagulan. Proses elektrokoagulasi dilakukan pada bejana elektrolisi yang didalmnya terdapt katoda dan anoda sehingga penghantar arus listrik searah yang disebut elekroda, yang tercelup dalam larutan limbah sebagai elektrolit. Apabila dalm suatu elektrolit ditempatkan dua elektroda, dan dialiri arus listrik searah, maka akan terjadi peristiwa elektrokimia yaitu gejala dekomposisi elektrolit, dimana ion positif (kation) bergerak ke katoda dan menerima elektron yang direduksi dan ion negatif (anion) bergerak ke anoda dan menyerahkan elektron yang dioksidasi (Yulianto, 2009).

C. ALAT dan BAHAN PRAKTIKUM
1. Alat-Alat Praktikum :
– Bunsen
– Corong
– Gelas kimia 50 ml
– Gelas kimia 250 ml
– Gelas ukur 50 ml
– Gelas ukur 100 ml
– Hot plate
– Korek api
– Mortar
– Neraca anlitik
– Penggerus
– Penjepit
– Pipet tetes
– Pipet volum
– Kartas lakmus
– Kertas saring
– Rubber bulb
– Sendok
– Spatula
– Stopwatch
– Tabung reaksi
– Rak tabung reaksi
2. Bahan-Bahan Prktikum :
– Air keran
– Aquades
– Detergen
– Etanol 95%
– Garam
– Gula pasir
– Karbon aktif
– Larutan benzena
– Larutan CaCl2 1%
– Larutan CuSO4 1%
– Larutan FeCl3 jenuh
– Larutan HgCl2 1%
– Larutan HNO3 pekat
– Larutan NaCl jenuh
– Larutan NaOH 6M
– Larutan NaOH 40%
– Larutan PbO(Ac)2
– Larutan Yod
– Na-oleat
– Putih telur
– Tepung kanji

D. PROSEDUR PERCOBAAN

E. HASIL PENGAMATAN
(Terlampir).

F. ANALISIS DATA
Persamaanreaksi:
1. Pembuatankoloid Fe(OH)3
FeCl3(aq) + 3H2O(l)→ Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)
2. Lemak( pembuatansabun )
 ( C17H35COO)3C3H3 + 3 NaOH 3C13H35COONa + C3H3(OH)3
 ( RCO2 )C3H5 + 3 NaOH 3CONa + C3H5( OH )3
Secarakeseluruhan
O
CH2 O C (CH2 )16 CH3
O CH2OH
CH2 O C (CH2 )16CH3 + 3 NaOH CHOH + 3CH3 ( CH2 )16 COO-+ Na+
O CH2OH
CH2 O C (CH2)16CH3
( lemak ) ( gliserol ) ( sabun )
Ditambahkan CaCl2
2CH3 ( CH2 )16 COONa + Ca2+ [CH3 (CH2)16 COO]2+ 2Na+
3. Protein
 Penambahan CuSO4 1% : CuSO4 CH COOH CuSO4 CH COO

NH2 NH3
 Penambahan HNO3 : HNO3 CH COOH HNO3 CH COO

NH2 NH3
 Penambahan HgCl2 : HgCl2 CH COOH HgCl2 CH COO

NH2 NH3
 Penambhan NaOH : NaOH CH COOH NaOH CH COO

NH2 NH3
 Penambahan Pb(OAc)2 : Pb(OAc)2 CH COOH NaOH CH COO

NH2 NH3

G. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini membahas tentang koloid dan senyawa karbon. Praktikum kali ini bertujuan untuk mempelajari beberapa hal mengenai koloid dan senyawa karbon. Sistem koloid adalah suatu campuran berfase dua yaitu fase terdispersi dan fase pendispersi. Dengan ukuran partikel yang berkisar antara 10-7 cm sampai dengan 10-4 cm. Koloid biasanya digolongkan menurut fasenya. Suatu sistem koloid terdiri dari dua fase, fase terdispersi dan medium pendispersi. Baik fase terdispersi maupun medium pendispersi dapart berupa gas, cair, dan padat.
Pada percobaan yang pertama yaitu pembuatan kolid dengan cara kondensasi. Kondensasi adalah pembuatan koloid dengan mengubah molekul-molekul menjadi partikel koloid. Pada pembutan As2S3
2H2AsO3 + 3H2S 6H2O + As2S3
Sol As2S3 pada percobaan ini dilakukan dengan metode dekomposisi rangkap, yaitu mengalirkan H2S pada larutan H2AsO3 dingin sampai terbentuk sol As2S3 yang berwarna kuning terang. Sol As2S3 ini bermuatan negatif karena permukaannya menyerap ion S-2.
Pada percobaab yang kedua yaitu pembuatan koloid Fe(OH)3. Koloid ini dibuat dengan cara meneteskan setetes demi setetes larutan FeCl3 jenuh pada air mendidih. Reaksi ini merupakan suatu reaksi hidrolisis, yiutu reaksi suatu zat dengan air. Pembuatan koloid ditandai dengan perubahan warna menjadi merah kecokelatan. Koloid Fe(OH)3 ini bermuatan positif karena permukaannya menyerap ion H+.
Pada percobaan selanjutnya, kita mencampurkan 1 ml koloid Fe(OH)3 dan 1 ml koloid Arsen (III) sulfida. Hasil dari pencampuran kedua larutan ini terbentuk endapan. Endapan ini disebabkan karena jika suatu elektrolit ditambahkan pada sistem koloid, maka partikel koloid yang negatif akan mengadsorpsi ion positif (kation) dari elektrolit. Begitu juga sebaliknya, partikel positif akan mengadsorpsi ion negatif (anion) dari elektrolit. Dari proses ini maka terjadi proses koagulasi atau penggumpalan.
Pada peercobaan selanjutnya, yaitu pembuatan koloid dengan cara dispersi yakni marubah ukuran partikel suatu senyawa menjadi partikel dengan ukuran koloid. Pada saat mencampurkan amylum dengan 10 ml aquades kemudian daiduk dan disaring. Hasil filtratnya berwarana bening karena partikel-partikel yang ukurannya lebih besar dari koloid tidak dapat melewati kertas saring. Ketika kita mencampurkan lagi amylum yang telah digerus dengan 10 ml aquades dan disaring dengan kertas saring, hasilnya beninga karena partikel yang berukuran lebih dari ukuran partikel koloid juga tidak dapat melewati kertas saring tersebut. Kemudian ketika kita meneteskan larutan yod pada amylum yang telah digerus, terjadi perubahan warna menjadi biru. Warna biru ini disebabkan karena amylum merupakan polisakarida. Pada amylum terbagi menjadi dua fraksi yitu amilosa dan amilopektin. Amilosa memiliki struktur linear dan dengan larutan yod memberikan warna biru serta larut dalam air. Fraksi yang tidak larut disebut fraksi amilopektin dengan struktur bercabang.
Pada percobaan selanjutnya yaitu emulsi. Dilarutkan 1 ml benzena dalam 10 ml aquades kemudian dikocok. Dari hasil pengamatan, waktu yang diperlukan agar zat cair keduanya terbentuk dua lapisan adalah 45,18 detik. Terjadinya pemisahan ini disebabkan karena larutan benzena merupakan larutan nonpolar sedangkan aquades adalah polar. Kemudian pada campuran larutan semacam diatas, ditambahkan 15 tetes Na-oleat, hasilnya benzena menyatu dengan Na-oleat dan mengendap dibawah karena masanya yang lebih besar dari masa jenis aquades.
Pada percobaan adsorpsi, gula pasir dilarutkan ke dalam 10 ml aquades kemudian ditambahkan karbon aktif kemudian dipanaskan diatas air panas. Kemudian dikocok dan disaring. Hasil yang didapatkan lebih bening, hal ini disebabkan karena permukaan karbon aktif mengadsorpsi ion sejenisnya. Hal ini mmneyebabkan ion-ion berlebih dan mengendap sehingga pada saat dilakukan penyaringan, filtrat yang diendapkan lebih jernih.
Pada percobaan membuat gel, yaitu dengan cara mencampurkan 15 ml kalsium asetat jenuh dengan 85 ml C2H5OH 95%, kemudian dimasukan kedalam cawan penguap dan dibakar dan terbentuklah gel. Hal ini dapat terjadi karena gel merupakan emulsi di dalam medium pendispersi zar padat. Gel disini dapat dianggap terbentuk akibat penggumpalan sebagian sol cair. Pada penggumpalan ini, partikel-partikel sol akan bergabung membentuk suatu rantai panjang. Rantai ini kemudian akan saling bertaut sehingga terbentuk suatu struktur padatan dimana medium pendispersi cair terperangkap dalam lubang-lubang tersebut.
Pada percobaan lemak atau pembuatan sabun, sebelumnya kita melarutkan detergen dan dicelupkan kertas lakmus ke dalamnya. Hasilnya, kertas lakmus ini berubah warna menjadi biru. Perubahan ini menunjukan bahwa larutan itu adalah larutan yang bersifat basa. Kemudian kita melanjutkan dengan proses pembuatan sabun dengan mencampurkan 5 ml NaOH 40%, minyak kelapa, dan etanol kemudian dipanaskan dan terus diaduk. NaOH pada percobaan ini digunakan untuk menggabungkan partikel-partikel yan terpecah setelah pemanasan. Setelah memakan waktu lebih dari 15 menit terlihat adanya proses penguapan air dan etanol karena perbedaan titik didih sehingga larutan yang dipanaskan menjadi padat. Setalah padat kemudian ditambahkan air dan didinginkan hingga beku dan ditambahkan 40 ml larutan NaCl jenuh. Setelah semua proses selesai dan sabun tadi digunakan untuk mencuci tangan, tidak terjadi rasa lengket pada tangan yang menandakan percobaan ini berhasil dilakukan. Percobaan pembuatan sabun ini juga merupakan sebuah emulsi padat dimana penggumpalan terjadi karena penggumpalan sebagian sol cair yang mengakibatkan partikel-partikel sol akan bergabung membentuk suatu rantai panjang dan saling bertautan sehingga terbentuk suatu struktur padatan dimana medium pendispersi cair terperangkap didalam lubang-lubang struktur tersebut. Sabun disini adalah gel elastis, yaitu karena dapat berubah bentuk jika diberi gaya dan kembali ke bentuk awal jika gaya ditiadakan. Setelah itu, sabun yang telah dibuat tadi diambil sebagian dan dilarutkan dalam 100 ml aquades dan setelah larut kemudian diambil 10 ml dari larutan kemudian ditambahkan 5 ml CaCl2 yang berfungsi untuk membuktikan bahwa larutan yang diuji adalah sabun dan menggbungkan endapan-endapan yang terpisah sebelumnya. Pada deterjen yang telah dilarutkan sebelumnya kemudian diteteskan pada aquades + CaCl2, aquades, dan air keran terlihat bahwa ketiga larutan itu tetap bening sedangkan ketika kita meneteskan larutan sabun yang dibuat sendiri pada aquades + CaCl2 terlihat keruh dan seperti terjadi penggumpalandan pada air keran juga terlihat sedikit keruh akan tetapi pada aquades terlihat bening. Hal ini disebabkan karena sabun adalah garm karboksilat dengan pertikel R-COO-Na. Di dalam air partike ini akan terionisasi
R-COO-Na+ R-COO- + Na+
Anion-anion R-COO- akan bergabung membentuk misel. Gugus R- tidak larut dalam air sehingga akan terionisasi ke pusat, sedangkan COO- dalam air larut dan ada di permukaan yang bersentuhan denga air, hal inilah yang menyebabkan adanya tanda-tanda penggumpalan karena penyerapan ion sejenis.
Pada percobaan selanjutnya yaitu mengenai protein. Protein ynag digunakan adalah putih telur. Protein adalah senyawa yang mengadung karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen dan sejumlah kecil belerang dan fosfor. Pada saat melarutkan 2 ml putih telur dengan 12 ml aquades larutan putih telur berwarna bening dan tidek perlu ditambahkan garam. Kemudian pada saat 2 ml larutan putih telur ditetesi dengan larutan CuSO4 1% dan NaOH 6M, terbentuk dua lapisan, pada bagian atas terdapat gumpalan putih, dan pada bagian bawah berwarna ungu. Kemudian 2 ml laruta putih telur lain ditambahkan HNO3 pekat berwarna kuning keruh, kemudian setelah dipanaskan dan ditambahkan NaOH 6M menjadi bening. Pada 2 ml larutan putih telur lain ditambahkan HgCl2 1% yang menyebabkan warna menjadi keruh. Pada 2 ml putih telur yang lain ditambhakan dengan NaOH 6M, berwarana bening dan setelah dilakukan pemanasan larutan tetap bening dan ketika uap dari larutan ini dihadang oleh kertas lakmus, kertas lakmus itu berubah warna menjadi biru yang menunjukan sifat basa pada larutan. Kemudian pada 2 ml larutan putih telur yang lain, ditambahkan Pb(Oac)2 dan terlihat warnanya cokelatbaning dan setelah ditambahkan NaOH 6M terlihat adanya gumpalan dan setelah dipanaskan larutan tersebut menjadi berwarna cokelat kehitaman.
Dari percobaan-percobaan tersebut menunjukan faktor-faktor yang menyebabkan rusaknya protein yang biasanya diasebut dengan istilah danaturasi protein. Denaturasi adalah pemecahan struktur yang aktif dari protein. Pada denaturasi terjadi perunbahan dalam struktur protein kareana adanya ikatan-ikatan pecah (ikatan-ikatan yang lemah yang mempertahankan struktur skunder, tersier, dan kuarterner). Ikatan peptida tidak pecah dan struktur tidak di ganggu.

H. KESIMPULAN
– Sistem kolois adalah suatu campuran berfase dua yaitu fase terdispersi dan medium pendispersi dengn ukuran partikel 10-7 cm dampai dengan 10-4 cm dan kondensasi merupakan salah satu cara pembuatan dengan mengubah molekul-molekul menjadi partikel berukuran koloid.
– Dispersi adalah suatu metode pembuatan kolid dengan merubah ukuran partikel menjadi partikel dengan ukuran koloid (dengan cara penggerusan).
– Emulsi merupakan pencampuran dua zar arau lebih yang tidak dapat saling larut.
– Setiap partikel koloid mempunyai permukaan yang sangat luas yang dapat mengadsorpsi.
– Larutan sabun merupakan basa, dan NaOH pada percobaan berfungsi menggbungkan partikel yang pecah setalah pemanasan.
– Denaturasi adalah pemecahan struktrur yang aktif dari protein dan rusaknya protein adalah akibat pemansan, penambahan asam atau basa kuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s