DAFTAR PUSTAKA ALL

2

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Hiskia. 2001. Kimia Larutan. Bandung: Cintra Aditya Bakti.
Anonim. 2006. Larutan Kimia. Diunduh dari http://wikipedia.org/larutan-kimia. pada hari minggu, 15 april 2012. Di UPT Pustik.
Anonim. 2011. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi. Diunduh di http://datachem.blogspot.com/2011/05/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-laju. Pada hari rabu, 9 mei 2012. Di UPT Pustik.
Bresnick, Stephen. 2002. Kimia Umum. Jakarta: Hipokrates.
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar. Edisi kelima. Jakarta: Erlangga.
Cotton, Wilkinson. 2007. Kimia Organik Dasar. Jakarta: UI Press. Baca lebih lanjut

KOLOID DAN SENYAWA KARBON I

0

ACARA VII
KOLOID DAN SENYAWA KARBON 1

A.PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum :
– Untuk mempelajari pembuatan koloid dengan cara kondensasi.
– Untuk mempelajari pembuatan koloid dengan cara dispersi.
– Untuk menetahui jenis koloid (emulsi).
– Untuk mempelajari sifat adsorpsi koloid.
– Untuk mempelajari reaksi penyabunan dan pembuatan sabun.
– Untuk mempelajari denaturasi protein.
Waktu praktikum :
Kamis, 22 Maret 2012
Tempat Praktikum :
Laboratorium Kimia Dasar I, lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

B. LANDASAN TEORI
Koloid adalah sistem dispersi. Sistem dispersi atau sistem sebaran adalah suatu sistem yang menunjukan bahwa suatu zat terbagi halus dengan zat lain. Zat yang terbagi atau didispersikan disebut fase terdispersi, fase intern, atau fase diskontinu, sedangkan zat yang digunakan untuk mendispersikan disebut fase pendispersi, fase ekstern, atau fase kontinu. Baca lebih lanjut

KINETIKA KIMIA

2

ACARA VI
KINETIKA KIMIA

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum :
Menentukan pengaruh katalis terhadap laju reaksi.
Waktu Praktikum :
Kamis, 10 Mei 2012
Tempat Praktikum :
Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

LANDASAN TEORI
Bidang kimia yang mengkaji kecepatan, atau laju, terjadinya reaksi kimia dinamakan kinetika kimia (Chemical Kinetics). Kata “kinetik” menyiratkan gerakan ata perubahan; yang telah didefinisikan sebagai energi yang tersedia karena gerakan suatu benda. Disini kinetika merajuk pada laju reaksi (reaction rate), yaitu perubahan konsentrasi reaktan atau produk terhadap waktu (m/s). Kita telah mengetahui bahwa setiap reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan umum
Reaktan produk
Persamaan ini memberitahukan bahwa, selama berlangsungnya suatu reaksi, molekul reaktan bereaksi sedangkan molekul produk terbentuk. Sebagai hasilnya, kita dapat mengamati jalannya reaksi dengan cara memantau menurunnya konsentrasi reaktan atau meningkatnya konsentrasi produk.
A B
Menurunnya jumlah molekul A dan meningkatnya jumlah molekul B seiring dengan waktu. Secara umum, akan lebih mudah apabila kita menyatakan laju dalam perubahan konsentrasi terhadap waktu. Jadi untuk reaksi diatas kita dapat menyatakan laju sebagai:
Laju = – (∆[A])/∆t atau laju = (∆[b])/∆t
Dengan ∆[A] dan ∆[B] adalah perubahan konsentrasi (dalam molaritas) selama waktu ∆t. Karena konsentrasi A menurun selama selang waktu tersebut, ∆[A] merupakan kuantitas negatif. Laju reaksi adalah kuantitas positif, sehingga tanda minus diperlukan dalam rumus lau agar lajunya positif. Sebaliknya, laju perubahan produk tidak memerlukan tanda minus sebab ∆[B] adalah kuantitas positif (Chang, 2005: 30). Baca lebih lanjut

REAKSI REDOKS DAN SEL ELEKTROKIMIA

7

ACARA V
REAKSI REDOKS DAN SEL ELEKTROKIMIA

A.PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum :
-Mengamati terjadinya reaksi redoks.
-Untuk mempelajari sel elektrokimia, dalam hal ini megamati terjadinya elektrolisis.
Waktu Praktikum :
Kamis, 3 Mei 2012
Tempat Praktikum :
Laboraotium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPa, Universitas Mataram.

B.LANDASAN TEORI
Reduksi adalah penerimaan elektron atau penurunan bilangan oksidasi, sedangkan oksidasi adalah pelapasan elektron atau peningkatan bilangan oksidasi.
Contoh reaksi reduksi:

Cu2(aq) + 2e- Cu(s)

Contoh reaksi oksidasi:

Zn(s) Zn(aq) + 2e-

Setiap reaksi redoks merupakan pasangan reaksi reaksi reduksi dan reaksi oksidasi. Jadi, reaksi redoks adalah reaksi yang di dalamnya terjadi serah terima elektron antarzat, atau reaksi yang disertai dengan perubahan bilangan oksidasi unsur. Contoh reaksi redoks sebagai berikut (Sutresna, 2007: 42): Baca lebih lanjut

ANALISIS KUANTITATIF

0

ACARA IV
ANALISIS KUANTITATIF: ASIDIMETRI DAN ALAKALIMETRI

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum :
Mengetahui cara pembuatan larutan baku primer asam oksalat 0,05M.
Menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan baku primer assam oksalat.
Menentukan konsentrasi larutan HCL dengan larutan NaOH.
Waktu Praktikum :
Kamis, 26 April 2012
Tempat Praktikum :
Laboratorium Kimia Dasar , Lantai III , Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

B.LANDASAN TEORI
Terdpat dua cara dalam menenetukan konsentrasi (kemolaran) suatu larutan. Cara pertama membuat larutan dengan konsentrasi tertentu, yaitu dengan menimbang zat secara tepat menggunakan pralatan akurat. Cara kedua menggunkan perkiraan jumlah zat yang terlarut dan perkiraan jumlah zat pelarut, kemudian konsentrasinya ditenetukan dengan metode titrasi. Titrasi adalah metode analisis kuantitatif untuk menentukan kadar suatu larutan. Dalam titrasi, zat yang ditentukan dititrasi oleh larutan yang konsentrasinyha diketahui dengan tepat dan disertai penambahan indikator. Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut larutan baku atau larutan standar, sedangkan indikator adalah zat yang memberikan tanda perubahan pada saat titrasi berakhir yang dikenal dengan istilah titik akhir titrasi (Sutresna, 2003: 56). Baca lebih lanjut

REAKSI ASAM BASA II

0

ACARA III
ASAM BASA II

A.PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Tujuan Praktikum :
– Untuk mengetahui dan mempelajari cara mengukur pH larutan dengan pH meter.
Waktu Praktikum :
Kamis, 29 maret 2012
Tempat Praktikum :
Laboratorium Kimia Dasar I, lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

B.LANDASAN TEORI
Campuran antara larutan asam lemah dengan garamnya atau basa lemah dengan garamnya disebut larutan buffer. Camouran ini dapat menahan perubahanpH bila larutan ditambahkan sedikit asam atau basa. Buffer dipakai untuk membuat larutan dengan pH tertentu, dan menjaga pH larutan. Besarnya pH larutan dapat ditetapkan dengan kalorimeter atau potensiometri. Prinsipnya dalah dengan menambahkan indikator tertentu pada larutan yang diselidiki dan membandingkan dengan warna larutan standar. Prinsip penetapan pH dengan kalorimeter sama hanya bedanya adalah cara membandingkan warna-warna dengan larutan standar. Ketetapan larutan pengukuran tergantung dari jenis larutan dan jenis pembanding. Kesukaran banyak terjadi pada pengukuran pH larutan garam dan protein pada konsentrasi tinggi, karena kekuatanion larutan sangat berpengaruh pada kesetimbangan indikator, selain itu juga pengukuran pH larutan-larutan berwarna harus ada cara tertentu untuk mengkopensi warna larutan (Sukardjo, 2002: 314). Baca lebih lanjut

REAKSI ASAM BASA 1

2

ACARA II
REAKSI ASAM BASA 1

PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Tujuan Praktikum :
Mempelajari cara pembuatan dan penggunaan ekstrak tumbuhan sebagai indikator penentu pH larutan.
Menentukan pH larutan dengan menggunakan kotak bjjerum dan melalui trayek perubahan warna.
Waktu Praktikum :
Kamis, 19 April 2012
Tempat Praktikum :
Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.
LANDASAN TEORI
Arrhenius mendefinisaikan asam sebagai zat yang larutannya di dalam air menghasilkan ion H+ dan basa zat yang larutannya dalam air menghasilkan ion OH-. Bronsted dan Lowry mendifinisikan asam sebagai zat yang dapat memberikan proton kepada zat yang lain, sedangkan basa ialah zata yang dapat menerima proton dari asam. Dan teori asam basa menurut Lewis adalah, basa ialah zat yang dapat memberikan pasangan elektron, sedangkan asam ialah zat yang dapat menerima pasangan elektron untuk membentuk ikatan kovalen koodinat (Sukardjo, 2002: 306-307). Baca lebih lanjut