PEMISAHAN DAN PEMURNIAN

ACARA I

PEMISAHAN DAN PEMURNIAN

 

  1. A.      PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Tujuan Praktikum                 : Untuk mempelajari teknik pemisahan dan pemurnian suatu zat dari campurannya.

Waktu Praktikum                 : Sabtu, 15 oktober 2011

Tempat Praktikum                : Laboratorium Kimia Dasar I, lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mtaram.

 

  1. B.       LANDASAN TEORI

Campuran dapat dipisahkan dengan menggunakan berbagai macam metode. Metode-metode tersebut, yaitu pengayakkan, penyaringan, sentrifugasi, evaporasi, pemisahan campuran dengan menggunakan magnet, sublimasi, destilasi, corong pisah, dan kromatografi. Metode dekntir digunakan untuk memisahkan campuran yang penyusunnya berupa cairan dan padatan. Dalam hal ini, ukuran padatan cukup besar sehingga mengendap di bagian bawah cairan. Dekantir dilakukan dengan menuang cairan ke wadah lain secara hati-hati supaya padatan terpisah dari campuran. Untuk mempermudah proses dekantir, dapat digunakan pengaduk pada saat menuang cairan. Dengan demikian, cairan tidak mengalir keluar wadah dan dapat terpisah dari padatan dengan baik. Namun, metode ini tidak dapat memisahkan cairan dan padatan secara sempurna. Hal ini disebabkan kadang-kadang masih ada cairan yang tersisa dalam wadah semula. Bisa juga terjadi, sebagian padatan ikut masuk ke dalam wadah baru (Mikarjudin, 2007: 195).

Seperti halnya dekantir, proses penyaringan juga digunakan untuk memisahkan campuran yang zat penyusunnya cairan dan padatan. Bedanya, ukuran padatan cukup kecil sehingga tidak mengendap di dasar cairan, tetapi tersebar pada cairan. Jika campuran jenis ini dipisahkan dengan dekantir, maka padatan dan cairan tidak terpisah dengan baik. Untuk itu dilakukan penyaringan. Penyaringan dilakukan dengan menuang campuran ke atas kertas saring dari sebuah corong gelas. Kertas saring akan menahan padatan yang lebih besar dari pada ukuran lubang saring. Padatan yang tertinggal pada kertas saring ini disebut residu. Sementara zat dengan ukuran partikel lebih kecil dari ukuran lubang saring akan lolos melalui kertas saring. Zat yang dapat melewati kertas saring ini disebut filtrate (Lutfi, 2007: 51).

Pengupan dan kristalisasi merupakan metode pemisahan campuran berdasarkan titik didihnya. Titik didih setiap zat berbeda satu dengan yang lain. Adanya perbedaan titik didih tersebut dapat dimanfaatkan untuk memisahkan campuran dengan cara penguapan, maksudnya dua zat berbeda titik didihnya dapat dispisahkan dengan cara penguapan (Partana, 2008: 64).

Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan kimia untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki perbedaan titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat dispisahkan dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa murninya. Senyawa-senyawa yang terdapat dalam campuran akan menguap pada saat mencapai titik didih masing-masing. Pemisahan senyawa dengan destilasi bergantung pada perbedaan tekanan uap senyawa dalam campuran (Rahayu, 2011: 168-169).

Rekristalisasi adalah proses pertumbuhan kristal-kristal baru dari kristal-kristal sebelumnya yang telah mengalami deformasi. Proses rekristalisasi membutuhkan pergerakkan dan penyusunan kembali atom-atom. Penyusunan kembali untuk rekristalisasi ini lebih mudah terjadi pada suhu tinggi (Vlack, 2004: 298-299).

 

  1. C.      ALAT DAN BAHAN
    1. Alat-Alat Praktikum
  • Gelas arloji
  • Gelas kimia 50 ml
  • Gelas kimia 250 ml
  • Labu erlenmeyer 100 ml
  • Labu erlenmeyer 250 ml
  • Pemanas
  • Pengaduk
  • Pipet tetes
  • Satu set alat destilasi
  • Sentrifuge
  • Tabung reaksi dan rak tabung reaksi
  • Termometer
  • Timbangan digital
  1. Bahan-Bahan Praktikum
  • Aquades
  • Batu didih
  • Bubuk kapur (CaCl3)
  • Etanol 96%
  • Iodium
  • Kloroform (CHCl3)
  • Kertas saring
  • Natrium klorida (NaCl)
  • Tembaga (II) sulfat (CuSO4)

 

  1. D.  PROSEDUR PERCOBAAN
    1. Tiga sendok bubuk kapur dimasukkan ke dalam gelas kimia yang sebelumnya telah diisi dengan 25 ml aquades. 5 ml larutan ini diambil dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi, larutan ini kemudian disentrifuge dan dipisahkan larutan dari endapannya dengan cara dekantasi. Selanjutnya 20 ml larutan sisa dimasukkan ke dalam gelas kimia dan difiltrasi dengan menggunakan kertas saring sehingga terbentuk filtrat. Warna sentrat dan filtrat kemudian dibandingkan.
    2. Garam dapur (NaCl) yang kotor dilarutkan dengan aquades secukupnya hingga larut. Kemudian disaring dengan menggunakan kertas saring sehingga didapat filtratnya. Filtrat itu kemudian diuapkan sampai kering. Setelah dirasakan cukup, pemanasan dihentikan dan dibiarkan semua larutan menguap. Garam dapur (NaCl) sebelum dan sesudah proses dibandingkan.
    3. Satu gram tembaga (II) sulfat dilarutkan ke dalam 20 ml aquades. Kemudian ditambahkan batu didih yang berfungsi untuk mengurangi letupan saat pemanasan dan mempercepat penyebaran panas. Kemudian larutan ini dipanaskan agar menguap kemudian didiamkan hingga dingin. Perubahan-perubahan yang terjadi kemudian dicatat.
    4. Kurang lebih tiga butir iodium (I) dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml aquades kemudian dikocok dan diperhatikan warna larutan. Kemudian ke dalam larutan ini ditambahkan tiga tetes kloroform (CHCl3) dan diperhatikan perubahan warna dan apa saja yang terjadi pada larutan tersebut.
    5. Lima ml aquades dicampurkan denga 15 ml etanol 96%. Sebelumnya, satu set alat destilasi telah dirangkai terlebih dahulu. Kemudian larutan tersebut dimasukkan ke dalam labu alas bundar dan dimulailah proses destilasi hingga diperoleh lagi destilatnya.

 

  1. E.  HASIL PENGAMATAN

 

No

Prosedur Percobaan

Hasil Pengamatan

1. Kedalam gelas kimia yang telah diisi ±25 mL aquades, dimasukkan 2 atau 3 sendok bubuk kapur lalu diaduk. Sebagaian isi (±5 mL) dituangkan kedalam tabung sentrifuga atau tabung reaksi. Sentrat dipisahkan dari endapan dengan cara dekantasi. Bagian isi lainnya dalam gelas kimia disaring, filtratnya ditampung. Filtrat dan sentrat dibandingkan. -        Warna awal bubuk kapur putih keruh.

-        5mL larutan setelah disentrifuga warnanya menjadi bening tetapi masih keruh.

-        Larutan sisa difiltrasi, warnanya menjadi bening.

-        Perbandingan : warna sentarat lebih keruh daripada warna filtrat.

2. Garam dapur yang kotor dilarutkan dengan aquades sedikit mungkin. Kamudian disaring dan filtratnya diuapkan (dalam cawan penguap) sampai kering. Singkirkan pembakar dan biarkan semua air menguap. Garam sebelum dan sesudah proses dibandingkan. -        Warna garam dapur sebelum proses : putih kotor.

-        Warna garam dapur sesudah proses : putih bersih.

3. Proses rekristalisasi : 1 gram tembaga (II) sulfat dilarutkan dengan aquades hingga larut. Saring bila diperlukan. Kedalam larutan ditambahkan batu didih dan diuapkan hingga kering. Singkirkan api dan biarkan dingin tanpa digoyang. -        Warna awal bubuk CuSO4: biru muda.

-        Aquades + bubuk CuSO4: CuSO4 larut dalam aquades.

-        Aquades + bubuk CuSO4 diuapkan + batu didih: letupannya rata tidak begitu besar. Batu didih tidak mengalami perubahan.

-        Setelah diuapkan hingga kering warnanya menjadi putih dan berwujud bubuk.

4. Sebutir kecil iodium dimasukkan kedalam tabung reaksi yang diisi aquades sabnyak 5 mL, dikocok dan warna larutan diamati. Beberapa tetes kloroform diambil, diamati warnanya, lalu dimasukkan kedalam larutan iodium. Diamati, kemudian dikocok dengan membenturkan dasar tabung dengan telapak tangan, diamati. -        Warna butiran iodium : hitam.

-        Aquades + iodium : iodium tidak larut.

-        Aquades + iodium + CHCl3: larutan berwarna bening kekuningan dan ioduim melebur, terjadi gumpalan gel/gumpalan raksa, masih ada serpihan iodium.

5. Alat destilasi biasa dipasang. Kemudian 15 mL etanol 96% dicampur dengan 5mL aquades kemudian dimasukkan kedalam labu destilasi. Labu dipanaskan hingga suhu 80º – 95º C. -        Terdapat gelembung.

-        Setelah suhunya cukup tinggi terdapat uap diujung atas labu destilasi.

-        Uap masuk kedalam kondensor. Dan mengembun, lalu mengalir keujung kondensor. Diperoleh destilat dengan volume 7,5 mL.

-        Pemanasan dilakukan hingga suhu 87,5ºC.

 

  1. F.   ANALISIS DATA
    1. Gambar alat destilasi

 

 

 

 

Fungsi masing-masing komponen:

  • Labu alas bundar berfungsi sebagai tempat larutan yang akan didestilat.
  • Kondensor digunakan sebagai pendingin uap yang dihasilkan dari hasil pemanasan sehingga terjadi pengembunan.
  • Labu erlenmeyer berfungsi sebagai wadah penampung hasil destilasi.
  • Selang masuk sebagai tempat aliran air yang masuk pada permukaan kondensor.
  • Selang keluar berfungsi sebagai tempat aliran air yang keluar.
  • Pipa konektor berfungsi sebagai penghubung antara kondensor dengan wadah penampung (labu erlenmeyer).
  • Termometer untuk mengukur suhu.
  • Pemanas berfungsi untuk memanaskan larutan.
  1. Perhitungan

Diketahui:            Volume etanol awal      = 15 ml

Volume aquades           = 5 ml

% etanol                        = 96%

Volume destilat            = 7,5 ml

Volume etanol murni    = Volume etanol awal x % etanol

= 15 ml x 96%

= 14,4 ml

Volume campuran         = Volume etanol + Volume aquades

= 15 ml + 5 ml

= 20 ml

% etanol dalam campuran      =

=

= 72 %

% etanol setelah destilasi       =

=

= 52%

 

G. PEMBAHASAN

Proses pemisahan dan pemurnian dapat dilakukan dengan berbagai cara. Cara-cara ini dapat dilakukan dengan cara sentrifugasi, filtrasi, ekstraksi, kristalisasi, destilasi, dan lain-lain.

Pada percobaan pertama, bubuk kapur (CaCO3) dicampurkan ke dalam aquades sehingga menghasilkan larutan yang berwarna putih keruh. Hal ini disebabkan karena bubuk kapur (CaCO3) berdifusi (tersebar merata) ke semua molekul aquades. Kemudian 5 ml larutan CaCO3 ini disentrifugasi selama 5 menit sehingga terlihat jelas perbedaan antara larutan dan endapannya. Kemudian hasil sentrifugasi ini didekantasi sehingga kita peroleh sentratnya. Sisa dari larutan sebelumnya difiltrasi untuk mengambil filtratnya. Ketika sentrat dan filtrat dibandingkan, terlihat bahwa sentrat terlihat lebih keruh dari pada filtrat. Hal ini disebabkan karena proses dekantasi tidak dapat memisahkan cairan dan padatan secara sempurna sehingga terkadang padatan ikut masuk ke dalam wadah baru. Sedangkan pada proses filtrasi dengan menggunakan kertas saring, kertas saring akan menahan padtan yang lebih besar dari pada ukuran lubang saring. Sehingga ketika dibandingkan sentrat lebih keruh dari pada filtrat karena mungkin sebagian padatan pada proses dekantasi ikut tertung pada wadah yang baru.

Pada percobaan kedua, garam dapur (NaCl) yang kotor yang telah dilarutkan dan difiltrasi diuapkan dengan cara pemanasan sehingga terbentuk garam dapur yang lebih bersih dari pada sebelum diproses. Hal ini diakibatkan karena larutan garam dapur telah mengalami proses filtrasi dan garam dapur yang sudah dilarutkan dapat terbentuk garam dapur padatan kembali karena terjadi penguapan. Sehingga hal inilah yang menyebabkan larutan NaCl mengkristal dan terbentuk NaCl padatan yang lebih bersih dari sebelumnya.

Pada percobaan ketiga, CuSO4  yang dilarutkan dengan aquades memiliki warna biru. Kemudian larutan tersebut dipanaskan yang sebelumnya telah ditambahkan batu didih. Batu didih ini berfungsi untuk mengurangi terjadinya letupan dan menyebarkan panas. Penguapan dengan cara pemanasan ini akan menghasilkan padatan kembali. Warna larutan setelah proses menjadi sedikit pudar karena konsentrasinya sudah berkurang.

Pada percobaan keempat, butiran iodium yang dicampurkan dengan 5 ml aquades mula-mula berwarna kuning bening disebabkan karena iodium berdifusi pada aquades. Akan tetapi butiran iodium ini tidak larut dalam aquades karena aquades bersifat polar sedangkan iodium bersifat nonpolar. Sehingga kedua zat tidak dapat larut. Setelah ditambahkan tiga tetes kloroform (CHCl3) warna yang dihasilkan tetap dan larutan kloroform larut bersama butiran iodium dan mengendap dibagian bawah dengan warna ungu pekat. Hal ini karena adanya perbedaan massa jenis CHCl3 lebih besar sehingga CHCl3 mengendap dibagian bawah.

Pada percobaan terakhir, campuran antara 15 ml etanol 96% dan 5 ml aquades didestilasi. Proses pemanasan ini menghasilkan uap dan uap tersebut dialirkan ke wadah untuk mengambil hasil dari destilasi. Uap yang dihasilkan pada pemanasan tersebut dialirkan menuju pipa konektor yang telah dikombinasikan dengan kondensor. Kondensor ini berfugsi untuk mengubah fase gas menjadi fase cair (pengembunan) sehingga diperoleh kembali etanol dari proses destilasi. Hal ini dikarenakan perbedaan titik didih antara etanol dan aquades.

 

  1. H.  PENUTUP
    1. Kesimpulan

Dari percobaan diatas dapat disimpulkan bahwa pemisahan dan pemurnian dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu, dekantasi, filtrasi, kristalisasi, destilasi dan lain-lain.

Proses dekantasi dan filtrasi mempunyai warna yang sedikit berbeda kekeruhannya. Karena pada proses dekantasi bisa saja endapan ikut masuk ke wadah baru.

Didapatkan etanol murni denga volume 7,5 ml karena perbedaan titik didih aquades dan etanol.

  1. Saran

Hasil pengamatan harus diketahui oleh setiap praktikan dan harus terjalin kerjasama yang lebih baik lagi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Lutfi. 2007. IPA Kimia. Jakarta: erlangga.

Mikarjudin. 2007. IPA TERPADU. Jakrta: ESIS.

Partana, Crys Fajar. 2008. KIMIA I. Bogor: Quadra.

Rahayu, Nurhayati. 2011. KIMIA. Jakarta: Gagas Media.

Vlack, Lawrence H. Van. 2004. Elemen-Elemen Ilmu dan Rekayasa Material. Edisi ke-6. Jakrta: Erlangga.

About these ads
By fuatzvirkill

8 comments on “PEMISAHAN DAN PEMURNIAN

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s